Skip to content

Small Win : 3 Skills Untuk Para (Calon) Entrepreneur…

December 29, 2011

Oleh Muhaimin Iqbal

Minggu, 18 December 2011 07:18

Tanpa saya sadari ternyata saya sudah lebih dari 20 tahun belajar usaha. Perusahaan saya yang pertama berdiri pada tahun 1991 bermitra dengan warga keturunan, kemudian tahun 1994 bermitra dengan para teknokrat dan birokrat – diantaranya ada yang kemudian menjadi rektor ITB dan ada pula yang menjadi menteri , kemudian lagi tahun 2001 bermitra dengan para aktivis dst. Semua usaha-usaha tersebut gagal sehingga saya ‘terpaksa’ tetap menjadi eksekutif di perusahaan orang lain sampai 2008. Bahkan usaha-usaha yang saya rintis ketika menjadi full-time entrepreneur-pun lebih banyak yang gagal ketimbang yang berhasil. Meskipun demikian satu dua yang berhasil diantara sekian banyak yang gagal – sungguh sudah merupakan sesuatu yang sangat berharga untuk ‘membayar’ seluruh kegagalan-kegagalan tersebut.

Rupanya berani gagal, dan bahkan tidak menyerah setelah berulang kali gagal dan babak belur dengan kegagalan-kegagalan adalah sesuatu yang common dari riwayat hidup para entrepreneur. Keberadaan para ‘pemberani’ ini sangat dibutuhkan untuk berkembangnya ekonomi dalam suatu negeri. Para entrepreneur adalah seperti nyala api busi pada mesin ekonomi, mereka yang meng-aktivasi dan menstimulir seluruh kegiatan ekonomi. Sehingga tidak heran bila maju tidaknya ekonomi suatu negeri tidak lepas dari tumbuh tidaknya jiwa entrepreneur para penduduknya.

Energy, kreativitas dan motivasi para  entrepreneur-lah yang mendorong lahirnya berbagai produk-produk baru baik berupa barang maupun jasa. Para entrepreneur jugalah yang menjembatani gap antara kebutuhan dan keinginan masyarakat dengan ketersediaan barang dan jasa yang sesuai. Mereka para entrepreneur yang mengintegrasikan dan mensinergikan seluruh sumber daya yang dibutuhkan untuk produksi barang dan jasa.

Lebih dari itu semua, para entrepreneur jugalah yang menanggung semua resiko bila segala sesuatunya tidak berjalan sesuai dengan yang semestinya – seperti dalam berbagai pengalaman kegagalan saya tersebut diatas. Tetapi justru dari kegagalan-kegagalan inilah kita bisa belajar sesuatu yang kemudiannya akan sangat berarti.

Pelajaran pertama yang saya ambil adalah ternyata semangat untuk ber-entrepreneur saja tidak cukup. Tidak cukup hanya dengan memiliki ide yang cemerlang diatas kertas, kemudian Anda bisa melompat keluar dari tempat kerja Anda terus langsung menjadi seorang entrepreneur. Entrepreneurship adalah skills atau ketrampilan, membangunnya tidak cukup dengan membaca buku atau duduk di bangku kuliah –membangunnya melalui cara mengasah, jatuh bangun dan terus mencoba itulah cara terbaik untuk mengasahnya.

Setelah entrepreneurship skill terbangun sekalipun dan Anda sudah memiliki suatu usaha yang berjalan baik, tidak berarti usaha-usaha berikutnya akan dengan mudah pula dilahirkan. Mengapa demikian ?. Karena entrepreneurship skill hanyalah salah satu dari setidaknya 3 skills yang dibutuhkan untuk suksesnya suatu usaha, dua skills yang lain yang mutlak dibutuhkan adalah technical skill dan managerial skill.

Ketika pertengahan tahun 90-an usaha saya bersama para teknokrat gagal adalah justru karena tidak cukup technical skill yang kami miliki. Team kami sangat menguasai ilmunya dibidang teknologi informasi yang paling maju saat itu, tetapi ternyata belum cukup infrastructure untuk aplikasinya  sehingga tidak cukup pas untuk memenuhi kebutuhan pasar yang kami tuju.

Ketika awal 2000-an saya gagal dibidang retail mulai dari makanan, pakaian dan berbagai kebutuhan sehari-hari lainnya – kegagalannya adalah karena tidak cukup managerial skills untuk pengelolaaanya. Mengontrol inventory dan cash flow untuk perdagangan retail ternyata sungguh tidak mudah.

Pertengahan tahun 2000-an mulai ada usaha saya yang berhasil, meskipun kecil saya sangat suka dengan yang satu ini. Saya menyebutnya sebagai small win saya – kemenangan kecil yang bisa menjadi inspirasi untuk usaha-usaha berikutnya yang lebih meaningfull di kemudian hari.

Usaha kecil ini bernama Rumah Madu. Kebutuhan yang ingin saya isi saat itu adalah kebutuhan pengobatan yang sesuai syar’i untuk melawan berbagai pengobatan alternatif yang cenderung kepada kemusrikan. Masyarakat muslim pada umumnya sudah percaya bahwa madu adalah obat karena ada di Al-Qur’an dan juga hadits, masalahnya adalah ternyata tidak mudah untuk menemukan madu yang bener-bener madu. Maka setelah need ini ditemukan menggunakan entrepreneurship skill yang mulai terbangun dari serangkaian kegagalan sebelumnya, kini tinggal membangun technical skill dan managerial skill-nya.

Untuk technical skill dibidang permaduan, saya udeg-udeg perpustakaan IPB – hanya untuk mengetahui bagaimana mendeteksi madu yang bener-bener asli. Saya menemukan setidaknya ada 20 thesis dari S1-S3 di IPB yang terkait dengan madu saja, ini memberi saya ilmu yang sangat memadai sebagai bekal. Tetapi ilmu saja tidak cukup, saya perlu melihat di lapangan bagaimana bisa mengetes madu yang asli. Maka saya kunjungi lembaga yang berama Pusat Lebah Nasional – Lokasinya di tengah hutan Parung Panjang – yang pimpinannya saat itu bahkan tidak bisa menjelaskan mengapa dipilih lokasi yang nun jauh disana.

Dari kunjungan dan komunikasi dengan pimpinan lembaga tersebut saat itu, akhirnya saya tahu bagaimana mengetahui keaslian madu melalui 11 elemen tes-nya. Masalahnya adalah untuk bisa mengetes 11 elemen yang akan menunjukkan apakah objek yang dites adalah madu yang memenuhi standar diperlukan serangakain alat yang canggih yang nggak mungkin terbeli oleh usaha kecil yang akan saya bangun. Sempat saya beli beberapa peralatan seperti PH-meter, spectrometer sampai refractometer/polarimeter – tetapi akhirnya pusing sendiri karena menjadikan saya masuk terlalu dalam ke teknis.

Cara yang mudah meskipun tidak murah akhirnya saya minta bantuan Sucofindo untuk menganalisa setiap batch madu yang kami beli dari supplier local maupun impor. Melalui laboratorium mereka yang memang sangat diakui di dunia industri, sejak saat itu saya  bisa mengetahui apakah madu yang saya beli dari supplier tersebut bener-bener madu yang sesuai SNI madu atau tidak.

Setelah technical skill terselesaikan, masih ada masalah besar yang menyangkut managerial. Yaitu continuity supply madu yang bisa memenuhi standar SNI dan pengendalian cash flow. Mayoritas supplier madu yang sanggup mengirim sejumlah besar madu ke saya, rata-rata gagal memenuhi standar SNI ketika sample-nya di tes di Sucofindo dengan 11 elemen tesnya. Maka saya hanya gunakan satu atau dua supplier saja yang memang bener-bener bisa  memenuhi standar yang diperlukan.

Masalah yang paling besar adalah di pengendalian cash flow. Bila madu saya taruh di supermarket, apotik dlsb. saya akan butuh modal yang besar karena harus mengadakan sejumlah besar stok yang ditaruh secara konsinyasi di berbagai supermarket dan apotik tersebut. Sedangkan madu bukanlah termasuk kebutuhan yang cepat perputarannya, walhasil modal besar tersebut akan seret dan numpuk di supermarket dan apotik.

Lagi-lagi solusi datang dari pengalaman kegagalan-kegagalan mengelola cash flow sebelumnya, akhirnya madu hanya saya jual tunai baik langsung ke pelanggan ataupun ke para agen. Dengan cara ini sederhana sekali kontrol saya, ketika stok di gudang madu berkurang – maka cash madu saya harus naik sejumlah stok madu yang berkurang tersebut.

Dengan pengendalian teknis dan managerial tersebut, usaha Rumah Madu ini tidak menjadi cepat besar, tetapi juga tidak bangkrut – kecil keuntungannya tetapi besar manfaatnya. Dia menjadi model  small win untuk saya – untuk menginspirasi usaha lain yang lebih berarti. Insyaallah.

sumber :

http://www.geraidinar.com/index.php?option=com_content&view=article&id=798:small-win-3-skills-untuk-para-calon-entrepreneur&catid=34:enterpreneurship&Itemid=86

Advertisements

From → Inspirasi

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: